Sabtu, 16 Juli 2011

OST DRAMA KOREA. DREAM HIGH

I dream high 난 꿈을 꾸죠 힘들 때면 난 눈을 감고 꿈이 이뤄지는 그 순간을 계속 떠올리며 일어나죠

I dream high, I have a dream When it gets hard I close my eyes.
And while replaying the moment my dreams come true, I get up and keep on going
두려움의 끝에서 난 오늘도 흔들리죠 떨어질까 봐 날아오르지 못하는 어린 새처럼 

I shake in the face of fear today as well. Like a young bird who's afraid to fly in fear of falling down

자꾸 내가 할 수 있나 내 꿈이 이뤄질까 내딛는 걸음 한 걸음 걸음이 다시 두려워 질 때마다
 
I keep on asking whether I can do this, whether my dreams can come true.
Whenever I make a step, step by step, the fear comes back.

Reff : 

I dream high 난 꿈을 꾸죠 힘들 때면 난 눈을 감고 꿈이 이뤄지는 그 순간을 계속 떠올리며 일어나죠 
I dream high, I have a dream When it gets hard I close my eyes.
And while replaying the moment my dreams come true, I get up and keep on going

I can fly high 나는 믿어요 언젠가는 저 하늘위로 날개를 펴고 누구보다도 자유롭게 높이 날아 오를거에요

I can fly high, I believe That one day that I will spread my wings And fly up into that sky higher than anyone before
넘어진 날 일으켜 줄 용기가 필요하죠 먼지를 털고 다시 일어나 또 한 번 뛰어갈 용기가 
I need courage to help me get up The courage which would make me jump up again, after brushing the dust off
다시 한 번 나를 믿고 나의 운명을 믿고 모든 걸 걸고 내 키보다 높은 벽을 뛰어 넘을거에요

Believing in myself and in my destiny once again. Risking everything I will jump over the wall higher than myself

Back to Reff :

I dream high 난 꿈을 꾸죠 힘들 때면 난 눈을 감고 꿈이 이뤄지는 그 순간을 계속 떠올리며 일어나죠 
I dream high, I have a dream When it gets hard I close my eyes.
And while replaying the moment my dreams come true, I get up and keep on going

I can fly high 나는 믿어요 언젠가는 저 하늘위로 날개를 펴고 누구보다도 자유롭게 높이 날아 오를거에요

I can fly high, I believe That one day that I will spread my wings And fly up into that sky higher than anyone before

Dream high a chance to fly high 아픔들은 이젠 모두 다 bye bye 하늘에 있는 저 별들처럼 높이 날아봐 니 꿈들을 펼쳐 보는 거야 

Dream High, a chance to fly high, from now to all the pain bye bye.
Try and fly as high as those stars in the sky. Watch your dreams unfold,

time for u to shine 이제부터 시작이야 gotta make em mine 니 손으로 이뤄가 미랠 두려워 하지마 

time for u to shine It's the start, gotta make 'em mine. Don't be afraid of building your own future

이젠 힘껏 자신있게 걸어가 Destiny 숙명이지 멈출 수 없는 운명이 지금 우리 눈앞에 펼쳐지지 

Walk on confidently with all your might. Destiny is your fate. Unstoppable destiny is now spreading in front of us

이건 너를 위한 whole new fantasy 그러니 이제부터 여기 내 손을 잡아 
This is a whole new fantasy for you. So just take my hand

우리의 목표는 지금부터 하나 꿈과 미래 포기하지 않아 젊음 열정 여기 모두다 Dream High 
Our goal now is the same. Don't give up on your dreams and future. Everyone here with youthful passion Dream High

I dream high 난 꿈을 꾸죠 힘들 때면 난 눈을 감고 꿈이 이뤄지는 그 순간을 계속 떠올리며 일어나죠 
I dream high, I have a dream When it gets hard I close my eyes.
And while replaying the moment my dreams come true, I get up and keep on going

I can fly high 나는 믿어요 언젠가는 저 하늘위로 날개를 펴고 누구보다도 자유롭게 높이 날아 오를거에요

I can fly high, I believe That one day that I will spread my wings And fly up into that sky higher than anyone before


video



Senin, 20 Juni 2011

Altruisme = Prilaku menolong = Prilaku Prososial

Menurut Baron, Byrne dan Brancombe (2006) Prilaku menolong atau dalam Psikologi Sosial dikenal dengan nama Prilaku Prososial adalah tindakan individu untuk menolong orang lain tanpa adanya keuntungan langsung bagi si penolong. Deaux, Dane dan Wrightsman (1993) mengatakan dalam prilaku menolong yang lebih diutamakan adalah kepentingan orang lain (selfless) dibandingkan kepentingan diri sendiri (selfish), terutama dalam situasi darurat. 

Menurut William (1981) membatasi prilaku prososial  secara lebih rinci sebagai prilaku yang memiliki intensi untuk mengubah keadaan fisik atau psikologis penerima bantuan dari kurang baik menjadi lebih baik, dalam arti secara material maupun psikologis. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa prilaku prososial bertujuan untuk membantu meningkatkan well being orang lain. Menurut Eisenberg & Mussen (dalam Dayakisni dan Hudaniah, 2009) pengertian prilaku prososial mencakup tindakan-tindakan:
1. Sharing (berbagi)
2. Cooperative (kerjasama)
3. Donating (menyumbang)
4. Helping (menolong)
5. Honesty (kejujuran)
6. Generosity (kedermawanan)
7. Mempertimbangkan hak dan kesejahteraan orang lain.

Menurut Staub (1978), ada 3 indikator yang menjadi tindakan prososial yaitu :
1. Tindakan itu berakhir pada dirinya dan tidak menuntut keuntungan pada pihak pelaku
2. Tindakan itu dilahirkan secara sukarela
3. Tindakan itu menghasilkan kebaikan
 
Menurut Sears, Freedman dan Peplau (1991), Prilaku Prososial mencakup kategori yang lebih luas, meliputi segala bentuk tindakan yang dilakukan atau direncanakan untuk menolong orang lain, tanpa memperdulikan motif-motif si penolong. Contoh dari tingkah laku menolong yang paling jelas adalah altruisme, yaitu motivasi untuk meningkatkan kesejahteraan orang lain (Batson, 1995, 2008). Menurut Sears, Freedman dan Peplau (1991) altruisme adalah tindakan sukarela yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang untuk menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun (kecuali mungkin perasaan telah melakukan kebaikan). Menurut Rushton (1980) Prilaku Prososial  berkisar dari tindakan altruisme yang tidak mementingkan diri sendiri atau tanpa pamrih sampai tindakan menolong yang sepenuhnya dimotivasi oleh kepentingan diri sendiri (selfish). Menurut Sears, Freedman dan Peplau (1991) Skala altruistik adalah  situasi di mana ganjaran atas tindakan menolong sangat kecil. Sarwono (2009) menjelaskan pada altrustik, tindakan seseorang untuk memberikan bantuan pada orang lain adalah bersifat tidak mementingkan diri sendiri (selfless) bukan untuk kepentingan diri sendiri (selfish).








Kamis, 19 Mei 2011

PROKRASTINASI

1. Pengertian Prokrastinasi

Istilah prokrastinasi berasal dari bahasa Latin procrastination dengan awalan 'pro' yang berarti mendorong maju atau bergerak maju dan akhiran 'crastinus' yang berarti 'keputusan hari esok' atau jika digabungkan menjadi 'menangguhkan atau menunda sampai hari berikutnya'. (http://www.carleton.ca/~tpychyl/history.html/)

Pada kalangan ilmuwan istilah prokrastinasi untuk menunjukkan pada suatu kecenderungan menunda-nunda penyelesaian suatu tugas atau pekerjaan, pertama kali digunakan oleh Brown dan Holzman (dalam Rizvi dkk, 1997).

Menurut Glenn (dalam http://www.physics.ohiostate. edu/~wilkins/writing/Resources/ essays/procrastinate), prokrastinasi berhubungan dengan berbagai sindrom-sindrom psikiatri, seorang prokrastinator biasanya juga mempunyai tidur yang tidak sehat, mempunyai depresi yang kronis, menjadi penyebab stress, dan berbagai penyebab penyimpangan psikologis lainnya, selain itu prokrastinasi menurut Lopez (dalam Hunsley; 1993), juga mempunyai pengaruh yang paradoksal terhadap bimbingan dan konseling.

Menurut Watson (dalam Zimberoff dan Hartman, 2001), anteseden prokrastinasi berkaitan dengan takut gagal, tidak suka pada tugas yang diberikan, menentang dan melawan kontrol, mempunyai sifat ketergantungan dan kesulitan dalam membuat keputusan.

Millgram (dalam, http://www.carleton.ca/~tpychyl/history.html/) mengatakan bahwa prokrastinasi adalah suatu perilaku spesifik, yang meliputi : 
(1) suatu perilaku yang melibatkan unsur penundaan, baik untuk memulai maupun menyelesaikan suatu tugas atau aktivitas, 
(2) menghasilkan akibat-akibat lain yang lebih jauh, misalnya keterlambatan menyelesaikan tugas maupun kegagalan dalam mengerjakan tugas, 
(3) melibatkan suatu tugas yang dipersepsikan oleh pelaku prokrastinasi sebagai suatu tugas yang penting untuk dikerjakan, misalnya tugas kantor, tugas sekolah, maupun tugas rumah tangga, 
(4) menghasilkan keadaan emosional yang tidak menyenangkan misalnya perasaan cemas, perasaan bersalah, marah, panik, dan sebagainya.

Ferrari (dalam Rizvi dkk., 1997) membagi prokrastinasi menjadi dua:
(a) Functional procrastination, yaitu penundaan mengerjakan tugas yang bertujuan untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap dan akurat, 
(b) Disfunctional procrastination yaitu penundaan yang tidak bertujuan, berakibat jelek dan menimbulkan masalah.

Ada dua bentuk prokrastinasi yang disfunctional berdasarkan tujuan mereka melakukan penundaan, yaitu decisional procrastination dan avoidance procrastination 

Decisional procrastination adalah suatu penundaan dalam mengambil keputusan. Bentuk prokrastinasi ini merupakan sebuah anteseden kognitif dalam menunda untuk mulai melakukan suatu kerja dalam menghadapi situasi yang dipersepsikan penuh stress (Ferrari, dalam Rizvi dkk.,1997). Prokrastinasi dilakukan sebagai suatu bentuk coping yang digunakan untuk menyesuaikan diri dalam perbuatan keputusan pada situasi - situasi
yang dipersepsikan penuh stress. Jenis prokrastinasi ini terjadi akibat kegagalan dalam mengindentifikasikan tugas, yang kemudian menimbulkan konflik dalam diri individu, sehingga akhirnya seorang menunda untuk memutuskan masalah. Decisional procrastination berhubungan dengan kelupaan, kegagalan proses kognitif, akan tetapi tidak berkaitan dengan kurangnya tingkat intelegensi seseorang (Ferrari dalam Wulan, 2000).  
Avoidance procrastination atau Behavioral procrastination adalah suatu penundaan dalam perilaku tampak. Penundaan dilakukan sebagai suatu cara untuk menghindari tugas yang dirasa tidak menyenangkan dan sulit untuk dilakukan. Prokrastinasi dilakukan untuk menghindari kegagalan dalam menyelesaikan pekerjaan yang akan mendatangkan. Avoidance procrastination berhubungan dengan tipe self presentation, keinginan untuk menjauhkan diri dari tugas yang menantang, dan implusiveness (Ferrari dalam
Wulan, 2000).

Faktor-faktor yang mempengaruhi prokrastinasi akademik dapat dikategorikan menjadi dua macam, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
a. Faktor internal, yaitu faktor-faktor yang terdapat dalam diri individu yangmempengaruhi prokrastinasi. Faktor-faktor itu meliputi kondisi fisik dan kondisi psikologis dari individu, yaitu:
1) Kondisi fisik individu.
    Faktor dari dalam diri individu yang turut mempengaruhi munculnya prokrastinasi akademik adalah berupa keadaan fisik dan kondisi kesehatan individu misalnya fatigue. Seseorang yang mengalami fatigue akan memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk melakukan prokrastinasi daripada yang tidak (Bruno, 1998; Millgram, dalam Ferrari, dkk, 1995). Tingkat intelegensi yang dimiliki seseorang tidak mempengaruhi perilaku prokrastinasi, walaupun prokrastinasi sering disebabkan oleh adanya keyakinan-keyakinan yang irrasional yang dimiliki seseorang (Ferrari dalam Wulan, 2000).
2) Kondisi psikologis individu.
   Menurut Millgram, dkk. (dalam Rizvi, 1998). Trait kepribadian individu yang turut mempengaruhi munculnya perilaku penundaan, misalnya trait kemampuan sosial yang tercermin dalam self regulation dan tingkat kecemasan dalam berhubungan sosial (Janssen dan Carton, 1999). Besarnya motivasi yang dimiliki seseorang juga akan mempengaruhi prokrastinasi secara  negatif, di mana semakin tinggi motivasi intrinsik yang dimiliki individu ketika menghadapi tugas, akan semakin rendah kecenderungannya untuk prokrastinasi akademik (Briordy, dalam Ferrari, dkk, 1995). Berbagai hasil penelitian juga menemukan aspekaspek ain pada diri individu yang turut mempengaruhi seseorang untuk mempunyai suatu kecenderungan perilaku prokrastinasi, antara ain; rendahnya kontrol diri (Green, 1982; Tuckman, dalam http://all.successcenter-ohio- state.edu/references/procrastinator_ state. edu/references/procrastinator_APA_paper.htm; Page dalam http://www.mwsc.edu/psychology/researc /psy302/fall96/stephanie_page.html)

b. Faktor eksternal, yaitu faktor-faktor yang terdapat di luar diri individu yang mempengaruhi prokrastinasi. Faktor-faktor itu antara lain berupa pengasuhan orang tua dan lingkungan yang kondusif, yaitu lingkungan yang lenient.
1) Gaya pengasuhan orangtua
  Hasil penelitian Ferrari dan Ollivete (dalam http://www.yosh.acil/syllabus/behave/academik.doc), menemukan bahwa tingkat pengasuhan otoriter ayah menyebabkan munculnya kecenderungan perilaku prokrastinasi yang kronis pada subyek penelitian anak wanita, sedangkan tingkat pengasuhan otoritatif ayah menghasilan anak wanita yang bukan prokrastinator. Ibu yang memiliki kecenderungan melakukan avoidance procratination menghasilkan anak wanita yang memiliki kecenderungan untuk melakukan avoidance procratination pula.
2) Kondisi lingkungan yang lenient. 
    Prokrastinasi akademik lebih banyak dilakukan pada lingkungan yang rendah dalam pengawasan daripada lingkungan yang penuh pengawasan (Millgram, dkk. Dalam Rizvi, 1998). Tingkat atau level sekolah, juga apakah sekolah terletak di desa ataupun di kota tidak mempengaruhi perilaku prokrastinasi seseorang ( Page dalam http://www.mwsc.edu/psychology/research/ps y302/fall96/stephanie_page.html).

Ciri-ciri Prokrastinasi Akademik
Ferrari, dkk., (1995) mengatakan bahwa sebagai suatu perilaku penundaan, prokrastinasi akademik dapat termanifestasikan dalam indikator tertentu yang dapat diukur dan diamati ciri-ciri tertentu berupa:
a. Penundaan untuk memulai maupun menyelesaikan kerja pada tugas yang dihadapi. 
    Seseorang yang melakukan prokrastinasi tahu bahwa tugas yang dihadapinya harus segera diselesaikan dan berguna bagi dirinya, akan tetapi dia menunda-nunda untuk mulai mengerjakannya atau menunda-nunda untuk menyelesaikan sampai tuntas jika dia sudah mulai mengerjakan sebelumnya.
b. Keterlambatan dalam mengerjakan tugas. 
   Orang yang melakukan prokrastinasi memerlukan waktu yang lebih lama daripada waktu yang dibutuhkan pada umumnya dalam mengerjakan suatu tugas. Seorang prokratinator menghabiskan waktu yang dimilikinya untuk mempersiapkan diri secara berlebihan, maupun melakukan hal-hal yang tidak dibutuhkan dalam penyelesaian suatu tugas, tanpa memperhitungkan keterbatasan waktu yang dimilikinya. Kadang-kadang tindakan tersebut mengakibatkan seseorang tidak berhasil menyelesaikan tugasnya secara memadai. Kelambanan, dalam arti lambannya kerja seseorang dalam melakukan suatu tugas dapat menjadi ciri yang utama dalam prokrastinasi akademik.
c. Kesenjangan waktu antara rencana dan kinerja aktual. 
   Seorang prokrastinator mempunyai kesulitan untuk melakukan sesuatu sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan sebelumnya. Seorang prokrastinator sering mengalami keterlambatan dalam memenuhi deadline yang telah ditentukan, baik oleh orang lain maupun rencana-rencana yang telah dia tentukan sendiri. Seseorang mungkin telah merencanakan untuk mulai mengerjakan tugas pada waktu yang telah ia tentukan sendiri. Seseorang mungkin telah merencanakan untuk mulai mengerjakan tugas pada waktu yang telah ia tentukan sendiri, akan tetapi ketika saatnya tiba dia tidak juga melakukannya sesuai dengan apa yang telah direncanakan, sehingga menyebabkan keterlambatan maupun kegagalan untuk menyelesaikan tugas secara memadai.
d. Melakukan aktivitas lain yang lebih menyenangkan daripada melakukan tugas yang harus dikerjakan.
   Seorang prokrastinator dengan sengaja tidak segera melakukan tugasnya, akan tetapi menggunakan waktu yang dia miliki untuk melakukan aktivitas lain yang dipandang lebih menyenangkan dan mendatangkan hiburan, seperti membaca (koran, majalah, atau buku cerita lainnya), nonton, ngobrol, jalan, mendengarkan musik, dan sebagainya, sehingga menyita waktu yang dia miliki untuk mengerjakan tugas yang harus diselesaikannya.